"Dunia Baru Telah Terbuka"
Laki-laki itu memeluk lutut dan terdiam diatas tempat yang tinggi itu, bahkan tatapan kosongnya tidak memantulkan cahaya sedikitpun. Angin berhembus kearah barat, ibarat angin mendorongnya untuk melompat dan mengahiri lembar kehidupannya. Matahari yang mulai terbenam itu bagaikan mengingatkannya bahwa waktu sudah berakhir dan membisikannya "Sudah saatnya". Secara perlahan laki-laki itu beranjak dari tempat duduknya dan langkah demi langkah ia ambil. Setengah dari kakinya sudah mengambang diatas gedung kosong setinggi 140 meter itu.
"Jika memang kematian ku sudah tertulis di naskah tuhan, jika memang penderitaanku sudah tertulis di naskah itu, jika memang hidup ku yang hanya lolucon ini sudah tertulis di buku bodoh mu itu!! apakah aku bisa menyobek naskah bodoh itu!! wahai tuhan!! kalo memang dirimu ada!! berilah aku satu kesempatan lagi, untuk merubah, untuk merubah takdir hamba mu ini."
Ucap laki-laki itu dengan berlinang air mata. Air mata itu bagaikan menderasi mata kosongnya dengan penuh kaca yang memantulkan cahaya. Ia menghela napas lebih dalam dari biasanya. Dengan menggenggam sesuatu, tanpa rasa ragu laki-laki itu melompat dengan mata terpejam. Angin yang kencang mengikis tubuhnya, tubuhnya menggigil merasakan hawa kematiannya sendiri. Kegelapan mulai melonjak dari tubuhnya dan semua sangat hening tanpa suara dengarnya.
"Akhirnya aku mengunci segalanya, selamat tinggal semuanya" senyuman terakhirnya terucap kata-kata yang mengakhiri semuanya.
"Terkadang seseorang lupa akan cara menggunakan kuncinya, entah dia memutarnya kekanan untuk membuka pintu atau memutarnya kekiri untuk mengunci pintu, entahlah aku tidak tau hal bodoh itu, tapi mungkin hal itu berlaku untuk mu, Kei." Kalimat itu terngiang di kepala laki-laki itu sesaat sebelum benturan terjadi.
--People do not die from suicide, they die from sadness--
5 kali dering dari alarm itu berbunyi, tapi hanya satu deringan keras yang membangunkan laki-laki itu. Tamparan dipipinya membangunkan tidurnya, seorang perempuan cantik dengan muka cemberut diatas ranjang nya.
"Iya, iya aku sudah bangun kok, makasih ya, Rika" ucap laki-laki itu dengan mengelus kepala perempuan itu.
Perempuan itu hanya tersenyum lebar dan melanjutkan membuatkan teh dari dispenser kecil sebagai pembuka hari.
"Rika, hmm begini, kau tau kan kalau diriku hanya pekerja pabrik biasa, kehidupan ku juga sangat rumyam, aku tidak yakin bisa melanjutkan hubungan kita ke depannya, aku sangat khawatir dengan dirimu" dengan perasaan resah laki-laki itu mengucapkannya. Dengan membawa segelas teh, perempuan itu menghampiri laki-laki itu dan memberikan teh itu kepadanya, dilanjut olehnya mengikat rambutnya dan mulai membersihkan kamar sempit laki-laki itu.
Laki-laki itu terdiam sejenak dan tersenyum lembut, beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap untuk pekerjaannya.
Laki-laki itu bernama Kei Ezra, ia bekerja sebagai pegawai di pabrik yang memproduksi makanan olahan, dia diterima 4 bulan lalu di tempat yang kotor dengan gaji pas-pasan itu. Dia tidak memperdulikan banyak hal karena dia sudah menemukan benang merah kehidupannya, yaitu perempuan bernama Yurika Aster. Yurika adalah wanita cantik berambut coklat bergelombang, umurnya lebih tua dari Kei, matanya yang sayup lembut, senyumnya yang ramah membuat banyak orang merasa sangat nyaman didekatnya.
Laki-laki itu terdiam sejenak dan tersenyum lembut, beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap untuk pekerjaannya.
Laki-laki itu bernama Kei Ezra, ia bekerja sebagai pegawai di pabrik yang memproduksi makanan olahan, dia diterima 4 bulan lalu di tempat yang kotor dengan gaji pas-pasan itu. Dia tidak memperdulikan banyak hal karena dia sudah menemukan benang merah kehidupannya, yaitu perempuan bernama Yurika Aster. Yurika adalah wanita cantik berambut coklat bergelombang, umurnya lebih tua dari Kei, matanya yang sayup lembut, senyumnya yang ramah membuat banyak orang merasa sangat nyaman didekatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar